Selasa, 10 Januari 2012

Aneka Resep Obat - Obat Tradisional

* Penurun panas, batuk, dan pilek
Parut bawang merah, tambahkan minyak telon, lalu balurkan pada punggung sampai bagian pantat sambil sedikit diurut. Juga pusar dan ubun-ubun. Untuk ramuan minum: air kelapa satu cangkir ditambah 1 sendok teh madu, aduk, lalu kukus. Setelah dingin, berikan pada anak sebanyak 3 sendok teh setiap 2 jam sekali. Ramuan ini diberikan untuk bayi 8 bulan ke atas. Bila usia anak di bawah 8 bulan, cukup dengan pemberian ASI atau ibunya yang minum ramuan tersebut.
Pada anak yang agak besar, gunakan ramuan minum berupa air kunyit dan madu. Setengah sampai satu ruas jari kunyit yang sudah bersih dibakar, dikerik kulitnya, diparut, lalu diberi air matang 1/2 cangkir, peras, kemudian diendapkan. Campur bagian air kunyit yang tanpa endapan dengan kocokan 1 butir kuning telur dan 1 sendok makan madu, kemudian disuapkan pada anak. Ramuan ini bisa untuk penurun panas seperti pada sakit cacar air, flu, atau apa saja.
* Perut kembung
Parut bawang merah dan tambahkan minyak telon. Kemudian tapelkan bawang yang sudah diparut tersebut di bagian pusar. Bisa juga, gunakan daun jarak pagar yang dihangatkan. Olesi dengan minyak kelapa, pilin-pilin, lalu tempelkan pada pusar si kecil.
* Diare
Sediakan 1/2 jari kunyit yang sudah bersih dibakar, dipotong-potong, 7 pucuk daun jambu biji, air 2 gelas, dan garam 1/4 sendok teh, rebus dengan api kecil. Minum airnya, 1 sendok teh satu jam sekali. Untuk mengusir gas, maka pusarnya ditapeli dengan parutan bawang merah yang sudah diberi minyak telon. Untuk anak yang sudah agak besar, boleh juga dengan mengunyah halus pucuk daun jambu klutuk yang sudah bersih ditambah garam lalu ditelan.
* Muntah-muntah
Muntah bisa disebabkan perut mual atau kembung. Sediakan 1/2 sendok teh ketumbar, 3 butir kapulaga, 5 butir adas hitam, dan air setengah gelas. Kemudian direbus. Setelah dingin, berikan ke anak sedikit-sedikit, sesering mungkin atau 2 jam sekali.
Boleh juga dibuatkan air beras kencur. Caranya, cuci 1 sendok makan beras dan direndam sebentar. Sangrai beras tersebut sampai berwarna kecokelatan, lalu ditumbuk halus bersama dengan 1 ruas jari kencur, 1 ruas jari kunyit, dan 1/4 sendok teh adas manis. Setelah itu diseduh dengan air panas, tambahkan gula merah, sedikit garam, dan asam jawa. Saring, lalu diminumkan pada anak agar tubuhnya hangat.
* Batuk
Sediakan air jeruk nipis 1 sendok makan ditambah madu 2 sendok makan dan air matang 2 sendok makan. Masukkan dalam cangkir dan kukus. Setelah agak dingin, minumkan pada anak sebanyak 1-2 sendok teh. Berikan sehari 5 kali.
* Batuk seratus hari
Sediakan umbi bidara upas sebesar 1/2 jempol yang sudah bersih, parut dan seduh dengan air panas, lalu aduk-aduk dan dinginkan. Saring dan tambahkan sedikit madu. Minum sampai habis. Buatlah ramuan ini 3 kali sehari. Bisa juga gunakan ramuan lidah buaya. Lidah buaya dikupas kulitnya dan ambil bagian dagingnya sebanyak dua jari, kemudian dicacah. Tambahkan air hangat dan madu, lalu diminumkan pada anak 1-2 kali sehari.
* Batuk karena angin atau dahak susah keluar
Sediakan 1 butir bawang merah diparut, 1 ruas jari jahe diparut dan diperas airnya, 7 butir adas manis, 1 ruas jari kunyit diparut dan diperas airnya, 1 sendok makan air jeruk nipis, dan 1/2 gelas air. Masukkan semua bahan di cangkir, kemudian kukus dan setelah itu saring. Minum 3 kali sehari masing-masing 2 sendok teh.
* Batuk berlendir
Campurkan air jahe 1 sendok makan, air kunyit 1 sendok makan, bawang putih 1 siung diparut, air jeruk nipis 1 sendok makan, madu 1 sendok makan, dan 3 sendok makan air matang, kemudian dikukus. Diminumkan 3-4 kali sehari 2 sendok teh.
* Pilek
Siapkan bawang merah yang diparut, lalu tapelkan pada tulang leher ketujuh (bagian tengkuk) dan ubun-ubun anak setelah sebelumnya diolesi minyak kayu putih. Beri juga minuman yang hangat-hangat, seperti minuman beras kencur. Selain itu, jemur anak di bawah sinar matahari pagi sekitar jam 7 atau di bawah jam 9 pagi. Panaskan bagian dada seperempat jam dan kemudian punggung seperempat jam. Ini bisa dilakukan sambil jalan-jalan pagi.
* Mata bintitan
Ambil getah dari batang tanaman patikan kebo atau getah dari batang pohon meniran. Tempelkan sedikit pada kapas, lalu oleskan pada bagian bintitnya, sedikit saja, jangan sampai terkena mata.
* Mata merah
Taruh 3 lembar daun sirih yang sudah dicuci bersih pada wadah mangkok. Seduh dengan air panas. Setelah airnya dingin, minta anak untuk mengedip-ngedipkan matanya dalam air tersebut.
* Sariawan
Ambil sebuah tomat matang, seduh dengan air panas dan kupas kulitnya. Haluskan tomat tersebut dengan menggunakan sendok, saring dan tambahkan sedikit gula. Beri anak minumam sari tomat tersebut.
* Tak nafsu makan
Menurut Endah, hilangnya nafu makan dapat disebabkan cacingan atau hal lain seperti masuk angin. Cara mengatasinya, bersihkan 1 lembar daun jarak pagar, setelah itu hangatkan sebentar di atas tutup panci. Beri olesan minyak kelapa pada daun tersebut dan dipilin, kemudian tempelkan daun tersebut di atas pusar anak, yang sebelumnya sudah diolesi dengan minyak telon.
Bila usia anak sudah lebih dari setahun, coba berikan ramuan 1 telapak tangan daun pepaya, 1 ruas jari temu hitam/temu ireng, seruas jari tempe bosok (tempe kemarin), dan sedikit garam. Semua bahan ditumbuk halus, lalu peras pakai kain dan masukkan ke mulut anak. “Khasiat temu hitam untuk mengeluarkan cacing, sedangkan daun pepaya untuk menambah nafsu makannya, dan tempe bosok untuk stamina atau kekuatan tubuhnya.
Untuk menambah nafsu makan anak bisa juga dengan ramuan: 1 ruas jari temulawak, gula merah, air secukupnya, dan sedikit garam, kemudian rebus dan saring. Minumkan pada anak 1-2 sendok makan sehari
* Mimisan
Selembar daun sirih yang sudah dicuci bersih dipilin dan disumpalkan ke hidung anak. Untuk pengobatan dari dalam tubuh lakukan dengan ramuan: 1/2 jempol umbi bidara upas yang sudah bersih diparut dan diseduh dengan 1 cangkir air panas, kemudian disaring, dan setelah dingin diminumkan ke anak ditambah sedikit madu.
* Benjol karena benturan
Rendam 1 sendok makan beras. Tumbuk bersama kencur dan beri sedikit garam. Setelah halus, tempelkan ke bagian yang benjol.
Bisa juga diberi ramuan: bawang putih diparut dan diberi ramuan: bawang putih diparut dan diberi madu, setelah itu dioleskan ke bagian yang benjol.
* Keringat buntet
Sesering mungkin dibedaki tepung kanji.
* Congekan
Cuci bersih 3 lembar daun miana atau 7 lembar daun samiloto segar atau lengkuas merah muda, lalu tumbuk halus. Peras pakai kain bersih dan teteskan air perasannya ke telinga. Lakukan dua kali sehari, masing-masing 3 tetes.
* Panu
Dua jari langkuas merah diparut dan diberi sedikit cuka, oles-oleskan pagi dan sore atau malam hari pada bagian tubuh yang berpanu tersebut.
* Koreng atau borok kepala
Batang brotowali dipotong-potong sebanyak 5 jari. Rebus dengan sedikit air, oleskan pada bagian kepala.
Bisa juga diberi ramuan: daun brotowali, parutan kunyit dan sedikit garam ditumbuk halus. Oleskan ke kepala. Boleh juga hanya dengan kunyit saja.
* Sakit gigi
Bawang putih diparut, ditambah sedikit garam, kemudian sumpal ke gigi yang sakit karena berlubang.
* Digigit nyamuk
Hilangkan bekas gigitannya dengan tanaman sambiloto yang diremas-remas dan dioleskan ke bagian bekas gigitan tersebut. Kalau tak ada sambiloto bisa digunakan minyak sereh.
* Asma
Sepuluh siung bawang putih diparut, ditambah madu 1 gelas, kemudian dikukus. Berikan pada anak sebanyak 1 sendok teh, dua kali sehari. Bisa juga, 10 siung bawang putih diparut, 1 ons gula batu, direbus bersama 1 gelas air.
* Luka-luka berdarah
Cuci bersih daun jambu biji atau daun bandotan, kemudian remas-remas. Tapelkan pada luka tersebut. Darah akan berhenti segera.
* Keracunan
Minum air kelapa hijau muda 3 kali sehari 1/4 gelas.
* Biduran atau kaligata
Balurkan tubuh dengan minyak telon, minyak kayu putih atau minyak tawon. Untuk ramuan minum: 1 jari temulawak dipotong-potong, beri sedikit gula merah, dan garam direbus dengan 1 gelas air. Saring dan bila sudah dingin diminumkan 3 kali sehari 1/4 gelas.

Selasa, 03 Januari 2012

Kelebihan dan Kekurangan Penggunaan Pacifier



Pacifier dalam istilah keseharian disebut sebagai empeng atau kempeng. Ada beberapa kelebihan dan kekurangan penggunaan pacifier, mari kita baca bersama.
Apa itu Pacifier?
Pacifier adalah “peacemaker” perangkat yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan bayi untuk mengisap. Nama lain untuk pacifier termasuk kempeng, dummies, atau “Binkies”.
Pacifier telah digunakan selama berabad-abad dalam bentuk yang berbeda-beda, adapun sekarang pacifier hadir dalam berbagai bentuk dan ukuran. Bentuk tersebut antara lain ortodontik (pipih) dan ada juga yang berbentuk menyerupai puting botol-dot. Pada sebagian besar negara telah memberlakukan peraturan tentang material untuk pacifier harus bebas dari bahan beracun.
Manfaat penggunaan pacifier
1. Dengan pacifier bayi bisa terpuaskan untuk kegiatan mengisap sesuatu  yang bukan nutrisi.
Menghisap adalah refleks bayi normal. Semua bayi memiliki kebutuhan untuk mengisap, tetapi jumlah mengisap bervariasi dari bayi ke bayi. Ada beberapa bayi yang dorongan untuk kegiatan menghisap lebih banyak dari kegiatan untuk makan. Banyak bayi ingin mengisap ketika mereka lelah, bosan, atau membutuhkan kenyamanan. Jika bayi Anda ingin menghisap di luar kegiatan menyusui atau minum dengan botol susu, empeng mungkin memenuhi kebutuhan tersebut.
2. Dot bisa membantu bayi Anda tidur
Banyak bayi menikmati kegiatan mengisap agar tertidur. Menghisap adalah perilaku menghibur diri. Rangsangan menyenangkan bisa didapat ketika mereka mengisap pada pacifier, jari-jari tangan, dot, atau ketika menyusu ke ibu. Rangsangan tersebut sebagai penenang terhadap situasi dunia luar yang masih membuat si kecil merasa bingung.
3. Sebuah pacifier dapat mengurangi risiko overfeeding untuk bayi yang diberi botol
Apa itu overfeeding, yaitu kondisi pemberian minuman yang terlalu banyak kepada bayi. Dorongan untuk menghisap untuk kenyamanan sering ditanggapi keliru dan dianggap sebagai tanda kelaparan akan minuman ASI. Resiko ini tidak akan dijumpai pada bayi yang menyusu langsung ke payudara karena pada bayi usia muda mereka tidak bisa mengontrol seberapa banyak minuman yang akan mereka minum dari botol-dot. Dengan pacifier kebutuhan bayi akan menghisap bisa terpenuhi tanpa takut kondisi overfeeding.
4. lebih mudah untuk berhenti menggunakan pacifier daripada berhenti mengisap jempol
Banyak orang tua khawatir tentang kegiatan mengisap ibu jari menjadi kebiasaan yang mungkin sulit untuk dihilangkan, oleh karena itu orang tua lebih memilih menggunakan pacifier daripada anak mereka ketergantungan dengan menghisap ibu jari. Kelebihan pacifier dibanding jempol adalah orang tua dapat dengan mudah mengontrol anak dalam hal penggunaan pacifier. Jika dirasa cukup orang tua bisa membuang pacifier tapi tidak dengan ibu jari.
5. Pacifier dapat mengurangi risiko Sindrom Kematian Bayi Mendadak (SIDS)
Ada sejumlah studi yang telah menemukan kejadian SIDS ditemukan lebih rendah pada bayi yang menggunakan pacifier dibandingkan dengan mereka yang tidak menggunakan pacifier. Sama seperti halnya penyebab SIDS yang belum dipahami dengan jelas, efek positif yang diberikan oleh penggunaan pacifier juga masih belum jelas. Penelitian lebih lanjut diperlukan sebelum penggunaan pacifier akan direkomendasikan untuk mengurangi risiko SIDS.
6. Dot dapat memberikan kenyamanan selama prosedur medis
Kenyamanan dari mengisap pacifier menimbulkan rasa aman dan nyaman sehingga mengurangi jumlah stres pada bayi. Penelitian telah menunjukkan manfaat yang jelas terlihat pada penggunaan pacifier pada bayi yang sedang menjalani terapi medis yang menyakitkan. Penggunaan dot adalah tambahan sederhana, noninvasive, dan efektif dalam pengelolaan rasa sakit.
Kejelekan penggunaan pacifier
1. Untuk beberapa bayi pacifier dapat mengganggu pertumbuhan
Mengisap membutuhkan energi. Kondisi bayi yang sedang sakit atau kuning akan lebih cepat lelah ketika melakukan kegiatan menghisap. Terlalu sering menggunakan pacifier bisa menurunkan nafsu makan sehingga berat badan bayi juga ikut berkurang.
2. Pacifier dapat meningkatkan risiko infeksi telinga
Menggunakan Pacifier tampaknya merupakan faktor yang berisiko menyebabkan terjadinya infeksi telinga bagian tengah  (otitis media). Sebuah studi di Finlandia yang diterbitkan dalam jurnal Pediatrics menemukan bahwa anak-anak yang melakukan kegiatan menghisap terus-menerus menggunakan pacifier mengalami infeksi telinga lebih tinggi daripada yang tidak menggunakan pacifier. Penulis berspekulasi bahwa mengisap pacifier secara kontinu mungkin merubah tekanan dalam ruang telinga tengah dimana infeksi telinga bisa terwujud. Namun, dalam penelitian ini tidak menyimpulkan penggunaan pacifier merupakan satu-satunya faktor yang penyebab infeksi telinga.
Dalam penelitian ini juga disarankan bahwa penggunaan pacifier harus terbatas dan lebih cenderung untuk menidurkan bayi (bukan untuk keseharian terus menerus). Hal ini untuk mengurangi resiko infeksi telinga.
3. Terlalu sering menggunakan pacifier dapat mengakibatkan bayi tertunda belajar berbicara
Penggunaan yang terlalu sering pada pacifier bisa menyebabkan efek ketagihan. Dan jika hal ini berlangsung sampai umur bayi 12 bulan maka mereka akan kekusahan untuk belajar berbicara.
4. Pacifier dapat sebagai asosiasi untuk tidur
Beberapa bayi menggunakan pacifier secara terus menerus agar tertidur. Hal ini kemudian dapat menjadi asosiasi tidur bagi mereka.
Ketika tertidur terkadang mulut terbuka dan pacifier akan terjatuh ketika bayi menyadari hal tersebut mereka bisa menangis dan orang tua akan berusaha untuk mencari pacifier kembali untuk mereka. Dalam hal ini jempol lebih unggul digunakan sebagai alat untuk dihisap daripada pacifier yang terkadang susah dicari.
CATATAN: Mencabut pacifier ketika bayi tertidur bukan solusi dari masalah di atas.
5. Penggunaan jangka panjang atau berlebihan pada pacifier dapat mengakibatkan masalah pada gigi
Penggunaan pacifier (atau menghisap jempol) di luar usia 5 tahun dapat mempengaruhi bentuk mulut atau gigi anak Anda. Efeknya adalah adanya gigi gigi bengkok/menonjol. Pacifier yang sering dicelupkan ke dalam zat manis seperti gula, sirup jagung, glukosa atau madu dapat menyebabkan peningkatan kerusakan gigi.

dikutip dari : asibayi.com