Selasa, 03 Januari 2012

Hindari Garam Saat Kenalkan Makanan Pertama Bayi



Makanan yang diberikan sewaktu kecil dapat mempengaruhi selera makanan seseorang seumur hidupnya. Hal tersebut mungkin dapat disebabkan oleh faktor kebiasaan. Sebuah studi baru menemukan bahwa, jenis makanan yang diberikan kepada bayi tampaknya mempengaruhi selera asin masa depan mereka terhadap garam.

Memperkenalkan makanan padat kepada bayi merupakan bagian yang sangat penting. Masa-masa ini merupakan masa yang menyenangkan sekaligus mengkhawatirkan. Karena masa ini merupakan langkah pertama untuk membantu bayi mengembangkan kebiasaan makan sehat yang akan berlangsung seumur hidup.

Penelitian dilakukan untuk menguji preferensi garam yang melibatkan 61 bayi berusia 2 bulan. Pada penelitian tersebut ditemukan bahwa bayi tidak selera terhadap cairan yang asin atau bahkan menolak. Bayi yang terlibat dalam penelitian tersebut lebih menyukai air tawar.

"Pada usia 6 bulan, 26 bayi yang terlibat dalam penelitian telah diperkenalkan pada makanan dari tepung yang lebih disukai dibandingkan dengan makanan berupa cairan asin. Sejumlah 35 bayi yang belum makan apapun, termasuk makanan dari tepung, tetap tidak menghiraukan atau menolak cairan asin," kata para peneliti di Monell Chemical Senses Center, Philadelphia.

Para peneliti memeriksa para ibu dari 26 anak ketika mereka mencapai usia prasekolah. Pada pemeriksaan tersebut ditemukan bahwa, 12 anak yang diperkenalkan pada makanan dari tepung sebelum usia 6 bulan lebih mungkin untuk makan garam dari makanan dan untuk makan garam biasa.

"Sedangkan pengenalan terhadap makanan lain, seperti buah, tidak dikaitkan dengan preferensi meningkat untuk rasa garam," kata para peneliti.

Studi mereka terfokus pada makanan yang mengandung tepung karena makanan tersebut termasuk makanan olahan. Makanan yang mengandung tepung tersebut, seperti sereal sarapan, roti, dan crackers, yang sering digunakan sebagai makanan awal bagi bayi dan sering mengandung garam tambahan.

"Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa pengalaman awal diet mempengaruhi preferensi untuk rasa asin," kata Leslie Stein seorang psikolog fisiologis dalam rilis berita Monell seperti dilansir dari MSNHealth, Rabu (21/12/2011).

Hasil penelitian tersebut telah dipublikasikan dalam American Journal of Clinical Nutrition.

Diyakini bahwa mengurangi asupan sodium dapat mencegah lebih dari 100.000 kematian per tahun dan menghemat miliaran dolar dalam biaya medis di Amerika Serikat. Oleh karena pengenalan selera asin dari sodium pada bayi dapat mempengaruhi selera asin ketika telah dewasa. Maka penting untuk membiasakan makanan rendah sodium untuk bayi.

Makanan tinggi sodium telah dikaitkan dengan penyakit darah tinggi (hipertensi). Hipertensi meningkatkan risiko penyakit jantung dan pembuluh darah. Makanan tinggi sodium pun telah dikaitkan dengan kegemukan.
dikutip dari : detik.com

Minggu, 01 Januari 2012

6 Cara Tingkatkan Kecerdasan Si Kecil


Setiap orang tua pasti mendambakan anaknya memiliki otak yang cerdas dan pintar. Namun tahukah Anda bahwa kepintaran banyak dipengaruhi oleh lingkungan si kecil?

Selain dengan belajar di sekolah, ada beberapa faktor lain yang dapat meningkatkan tingkat kecerdasan si kecil. Beberapa cara yang bisa dilakukan untuk membuat anak menjadi lebih pintar, seperti dikutip dari MSNNews.

1. Pemberian ASI
ASI merupakan makanan otak yang paling dasar. Peneliti secara konsisten terus menunjukkan berbagai macam keuntungan ASI yang behubungan dengan pertumbuhan bayi. Anak yang mengkonsumsi ASI eksklusif akan memiliki tingkat kepintaran yang lebih tinggi dibandingkan dengan anak yang mengkonsumsi ASI hanya beberapa bulan saja.

2. Bermain permainan yang berpikir
Catur, teka-teki silang dan sudoku selain menyenangkan juga mendukung strategi berpikir anak-anak, bagaimana cara menyelesaikan masalah, dan membuat keputusan yang kompleks.

3. Bermain musik
Bermain musik selain menyenangkan juga bisa merangsang pertumbuhan otak kanan. Menurut sebuah studi di Universitas Toronto, diadakannya pelajaran musik bisa memberikan keuntungan dalam meningkatkan IQ anak dan performa akademisnya. Semakin lama waktu yang digunakan untuk bermain musik maka efek yang dihasilkan juga semakin besar.

4. Membiasakan berolahraga
Para peneliti di Universitas Illinois menunjukkan hubungan yang kuat antara kebugaran dan prestasi akademik di antara anak-anak sekolah dasar. Semakin bugar badan sang anak maka kemampuan dalam menerima pelajaran juga meningkat. Sebaiknya mendorong anak untuk terlibat dalam aktivitas fisik atau organisasi olahraga tertentu sesuai dengan minat anak.

5. Menyingkirkan makanan siap saji
Mengurangi asupan gula, lemak trans dari makanan siap saji dan menggantinya dengan makanan bergizi tinggi yang baik untuk perkembangan mental anak usia dini serta berfungsi dalam perkembangan motorik anak pada usia 1-2 tahun pertama. Contohnya anak-anak memerlukan zat besi untuk perkembangan jaringan otak yang sehat, anak yang kekurangan zat besi akan lambat dalam menerima rangsangan.

6. Memberikan sarapan yang sehat
Para peneliti meyakinkan bahwa mengonsumsi sarapan yang sehat akan meningkatkan memori dan konsentrasi anak dalam belajar. Anak-anak yang tidak dibiasakan sarapan cenderung lebih mudah marah dan kurang konsentrasi pada waktu belajar, sementara anak yang sarapan akan tetap fokus dan bergerak selama jam sekolah.